Pengemudi Pengiriman Juga Memanfaatkan GrabFood

Pengemudi Pengiriman Juga Memanfaatkan GrabFood – Ini bukan hanya tentang restoran. Taksi sepeda motor Grab, atau GrabBike, juga mendapatkan keuntungan dari layanan pesan-antar makanan GrabFood. Saat jam menunjukkan pukul 12 siang, orang-orang sekarang menelusuri ponsel cerdas mereka untuk melihat apa yang enak untuk makan siang. Perubahan gaya hidup ini telah mendorong lebih banyak restoran untuk bergabung dengan aplikasi pengiriman makanan. Dengan pesanan online yang berdatangan, ini berarti lebih banyak makanan untuk dikirim.

Sehari-hari, pengemudi GrabBike tidak hanya mengantarkan penumpang ke tujuan mereka. Mereka juga menerima permintaan untuk mengantarkan makanan ke depan pintu rumah pelanggan. Meski tidak sesering itu, pengemudi GrabCar bertugas mengirimkan pesanan makanan dalam jumlah besar. Sebuah studi tahun 2020 oleh lembaga think-tank Center for Strategic and International Studies (CSIS) Institute dan Statistik Tenggara mengungkapkan 37 persen perjalanan pengemudi GrabBike pada tahun 2019 adalah pengiriman GrabFood. Survei yang sama juga menyatakan rata-rata pendapatan bulanan pengemudi GrabBike naik 124 persen dari Rp 2,1 juta (sekitar $ 150) menjadi Rp 4,6 juta setelah bergabung dengan Grab.

Menurut Momentum Works, GrabFood mengambil alih 53 persen pasar layanan pesan-antar makanan pada tahun 2021. Sejak pertama kali diluncurkan, Grab selalu berupaya untuk menambah lebih banyak mitra pengemudi dengan harapan dapat memperluas layanannya, termasuk GrabFood. Di antara banyak pengemudi dalam ekosistem digital Grab adalah Ika Dewi Sulistiani, seorang pengemudi GrabBike di Surabaya. Setelah meninggalkan rumah pada pukul 06.00, Dewi akan mengelilingi kota hingga pukul 21.00. untuk mengambil pesanan – baik pemesanan tumpangan maupun pengiriman makanan. Bahkan, seorang ibu tunggal menargetkan mendapatkan penghasilan minimal Rp 200.000 dalam sehari.

“Kenapa kita tidak bekerja lebih keras lagi kalau bisa berpenghasilan lebih? Selama saya tidak sakit parah, saya akan terus bekerja. Bagi saya, bekerja itu penting seperti membesarkan anak butuh uang,” kata Dewi dalam keterangan tertulis. Dewi pernah bekerja di kantor sebagai staf admin sebelum bergabung dengan Grab. Ketika kontrak satu tahun habis, Dewi harus mencari pekerjaan lain untuk menafkahi keluarganya. Dia kemudian menemukan lowongan pekerjaan sebagai pengemudi GrabBike di media sosial. Saat pertama kali Dewi melamar, ia merasa tidak percaya diri karena pelamar lainnya semuanya laki-laki. Ponselnya juga model lama. Dengan RAM yang hanya 1 gigabyte, ponselnya pun rawan lag.

Usai mengambil helm dan jaket Grab, Dewi bergabung dengan komunitas pengemudi taksi online yang berbasis di Surabaya. Para anggota menyarankan agar dia beralih ke model smartphone yang lebih baru, yang kemudian dia lakukan. Konsultasi dengan sesama pengemudi juga membuat Dewi semakin percaya diri untuk melakukan lebih banyak perjalanan. Menurut Dewi, penghasilan GrabBike membantunya menjalankan bisnis. “Sejak awal, saya selalu merencanakan untuk mengalokasikan sebagian pendapatan Grab saya untuk mendanai bisnis. Saya tidak bisa menjadi pengemudi selamanya karena energi saya akan turun. Tapi saya senang bisa bertemu Grab di usia 31 tahun, “kata Dewi. “Saya bisa mencari nafkah untuk anak dan keluarga saya. Ini adalah pilihan yang tepat bagi saya sebagai orang tua tunggal.”

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *